Photobucket

Rock Photography

Helloween live at Java Rockin'land 2011

Photobucket

Rock Photography

The Brandals @Jakcloth 2012

Photobucket

Rock Photography

Koil at Kaskus Jelajah TKP

Photobucket

Rock Photography

Jono of Gugun Blues Shelter

Photobucket

Rock Photography

Koil at Kaskus Jelajah TKP

Thursday, 6 December 2012

Live Performance at Kaskus Jelajah TKP

Hari ke dua Kaskus Jelajah TKP, saya datang sekitar pukul 14.00. Seperti biasa setiba di lokasi acara yang saya lakukan pertama kali adalah memantau panggung, memperkirakan spot yang asik buat motret panggung ketika band perform nanti, dan tentunya nyeting kamera. 

Ada tiga panggung dengan kondisi berbeda. Welcome Stage, berada tidak jauh setelah pintu masuk acara, panggung itu cukup kecil dengan tata lampu yang minim. Kaskus Stage, merupakan panggung utama yang terletak di Plaza Barat, area untuk penonton cukup luas dan tentunya sangat leluasa untuk mengambil gambar dari angle manapun. Indoor Stage, berada di Tennis Indoor yang tentunya keadaannya jauh berbeda dengan 2 panggung outdoor. Tata lampu dan backscreen  tampaknya lebih memukau di panggung tersebut, dan tentunya di lengkapi AC, lumayan buat ngadem sejenak.

Oke..  Masih ada waktu beberapa menit sebelum The Experience Brother main di panggung utama. Saya ke booth F&B terlebih dahulu buat nukerin kupon gratis Coca-Cola, lumayan bikin segar mengingat cuacanya terik. 

Sebenarnya rencananya saya mau mengikuti workshop Stage ID (komunitas fotografi konser), tapi pas sampai sana ternyata acaranya sudah selesai.. argh!  Padahal forumnya di kaskus lumayan rame, pengen banget dapetin ilmu baru kalo aja sempat liat workshopnya, tapi ya sudahlah, karena memang baru tau jadwal acara pas sampe lokasi haha..

The Experience Brother
Sekitar pukul 15.00, The Experience Brother (TEB) menggeber panggung utama Kaskus Stage, duo gitar-drum ini memainkan lagu-lagu dari 2 album mereka yang kental dengan blues dan rock n’ roll. Tidak terlalu banyak penonton yang ada di depan panggung, kebanyakan hanya nonton dari pinggir area sambil duduk-duduk. Sayapun cukup leluasa jeprat-jepret band ini, pindah-pindah angle, dari kanan, dari kiri, maju, mundur. Karena hanya ada 2 personil di band itu, rasanya kurang mantab rasanya jika motret dengan wideshoot, panggung jadi terlihat terlalu kosong,  jadi saya pakai lensa 70-300mm agar bisa motret band tersebut secara individual. Meskipun cenderung fokus ke gitarisnya hehe..






Selesai dengan TEB, lanjut ke Indoor Stage, di atas panggung sudah ada Neurotic – Jmono Music. Kecuali drummernya yang sangat familiar, saya benar-benar gak kenal band ini, yang saya tau cuma Enno Gitara yang ada di balik drum. Saya pun cukup mengambil gambar sekedarnya.  

Kemudian di panggung yang sama, Pure Saturday menyapa penonton yang sudah lama menunggu. Mereka  memainkan lagu-lagu andalannya diiringi sing-along penonton yang benar-benar fans band ini sejak lama. Maklum band alternatif pop 90-an ini memang jarang-jarang tampil saat ini, sehingga konser mereka saat itu menjadi momen mengenang kejayaan era 90-an. Saya sendiri bukan fans Pure Saturday, hanya mengenal beberapa lagunya dan cukup menikmati penampilan mereka.

JKT48
Keluar dari Indoor Stage, meluncur ke panggung utama, dan ternyata diluar sana sudah ramai dengan cowok-cowok abg nanggung dengan t-shirt merah bertuliskan JKT48, wuooow... Idol group yang satu ini juga paling ditunggu di acara tersebut, terlihat dari depan panggung hingga sisi pinggir area jalan sudah dipenuhi penonton yang sudah stand-by menunggu JKT48, padahal baru sekitar pukul 16. 35. Sedangkan menurut rundown mereka akan perform pukul 17.00! masih setengah jam lagi tapi saya sudah susah cari spot buat motret, jangankan buat nonton, buat jalan saja sudah susah!! Hahaha...

Waktu semakin dekat, di panggung tampak microphone milik member JKT48 mulai disiapkan oleh kru, penonton semakin gak sabar, mereka tahu jika mick mulai disiapkan, waktu perform semakin dekat. Benar saja.. mulai terdengar opening-voice yang biasa terdengar sesaat sebelum mereka memasuki stage.  Penonton ikut meneriakkan “JKT48” sambil mengacung-acungkan stick-light warna-warni. Tak lama kemudian Member JKT48 satu-persatu memasuki stage, menghampiri mick-nya masing-masing. Dan... ahh itu dia.. Melody, berdiri paling depan dan langsung membuka hitungan “one-two-three-four!!” seketika itu juga Heavy Rotation menggetarkan bagian Barat Senayan!!

Saya, cukup jauh dari panggung dan harus berdiri di pijakan batas jalan untuk dapat melihat mereka lebih jelas. Tapi entah kenapa perasaan saya jadi tidak menentu ketika melihat Melodi hahaha...  entah terlalu excited atau grogi atau entah kenapa, jadi gak fokus.  Gadis itu memang terlihat lebih cuuantik jika dilihat dengan mata kepala langsung, dan auranya... hahhh.. *gak bisa nulis lagi*

Berusaha tetap tenang, pasang lensa zoom untuk dapat “menjangkau” Melodi dan member lainnya. Untunglah saya sudah hampir hafal lagu dan gerakan dance-nya, sehingga memudahkan saya untuk menangkap gambar. Mempelajari performance mereka maupun band lainnya sangat penting untuk tahu kapan mereka akan mengeluarkan gerakan-gerakan cepat, ekspresi unik, dan kapan mereka cenderung diam, sehingga sang fotgrafer pun siap.

Empat lagu dibawakan JKT48, Heavy Rotation, Baby Baby Baby, Ponytail to Shushu, dan lagu terbaru Gomen no, Summer. Performance mereka cukup menarik & enerjik, dengan kostum berhiaskan glitter yang membentuk pola bendera Inggris, dan rok mini serta sepatu boots.  Walaupun target utama saya adalah Melodi, Sonya, Nabilah, tapi posisi saya tidak memungkinkan untuk mengambil semua personil secara jelas. Saya bahkan harus memaksimalkan vocal-lenght lensa ke 300mm pol haha.. ya segitu jauhnya posisi saya ke panggung, malahan sesekali saya menikmati penampilan mereka melalui view-finder agar lebih jelas,  seperti melihat dengan teropong :p 





Gribs
Break magrib hingga setengah tujuh, kemudian saya mempersiapkan diri di dekat Welcome Stage, menunggu Gribs. Saya menyayangkan pertunjukkan mereka yang ditempatkan di panggung sekecil itu, dengan tata lampu yang minim pula. Padahal performance mereka sangat eksentrik namun tidak didukung dengan tata panggung yang memukau. Mesikipun begitu, Gribs tetap tampil maksimal menghajar dengan lagu-lagu jagoannya dan konsisten dengan attitudenya, Rocks!!!






Koil
Beranjak malam, Koil membawa suasana suram di Indoor Stage!! Beberapa lagu pamungkas dengan balutan Gothic-Rock digeber malam itu, Apa yang Kita Percaya, Kenyataan dalam Dunia Fantasi, Aku Lupa Aku Luka. Koil merupakan band yang sangat fotogenic menurut saya, dari wardrobe, set panggung, back-screen, semuanya sesuai dengan konsep musiknya. 





Gugun Blues Shelter
Ini band yang terahir saya saksikan dalam Jelajah TKP saat itu. Secara visual band ini tidak terlalu istimewa, kecuali bassis-nya yang bule. Tapi musiknya... wuihh sedaapp banget!!! Saya merasa ada chemistri antara saya dan musik yang mereka mainkan, sehingga hasil fotonya cukup bagus hehe.. 




Wednesday, 15 August 2012

Logo Coffee Shop - Serupa Tapi Tak Sama


Mengunjungi kedai kopi sepulang dari kantor merupakan aktivitas yang sering kali saya lakukan untuk melepas lelah karena macet dan jenuh. Beberapa coffee shop telah saya kunjungi, karena setiap tempat memiliki sajian kopi andalannya masing-masing. Beruntunglah sekitar Blok M banyak tempat ngopinya hehe. Namun ketika saya berada di sebuah coffee shop franchise lokal, dalam keadaan lelah dan pikiran sedikit nge-blank mata saya terus tertuju pada signage yang bergambar logo coffee shop tersebut. Tiba-tiba seperti ada tombol kejut! pikiran saya menelusuri data base di memori otak, seperti search engine yang mencari data dengan satu kata kunci. Yup, logo coffee shop tersebut menjadi ‘kata kunci’ bagi logo-logo coffee shop lainnya karena memiliki beberapa kesamaan.
Jika diperhatikan, banyak logo coffee shop franchise di Indonesia yang bentuknya menyerupai logo Starbucks. Ini mengusik saya sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia desain grafis. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap brand dan desainer brand tersebut. Saya hanya heran kenapa logo-logo itu harus dibuat menyerupai  dengan Starbucks?





Bentuk dasarnya berupa lingkaran dan terdapat simbol di tengahnya. Kemudian teks yang merupakan nama brand melingkar di atas dan bawah simbol. Semua logo yang saya tampilkan disini memiliki komposisi dasar yang sama seperti starbucks. 

Entah faktor apa yang membuat logo-logo tersebut dibuat dengan bentuk sedemikian rupa. Apakah  karena konsep usahanya berupa franchise sehingga logonya harus mengacu pada bentuk dasar logo Starbucks yang merupakan franchise kedai kopi terbesar? Inilah tanda tanya buat saya. 

Namun jika hal tersebut tidak saling berkaitan, manurut saya ada baiknya membuat diferensiasi lain yang lebih memiliki nilai khas sesuai yang dimiliki masing-masing coffee shop.Seperti gambar logo-logo di bawah ini, masing-masing memiliki karakter visual yang kuat namun tetap simple.


Sunday, 6 May 2012

Creative Blog Writing - Rahasia Menulis Blog Lebih Kreatif



Bisa saya katakan, jarang sekali buku dengan tema unik seperti ini, buku mengenai blogging yang membahas tentang penulisan blog. Jika buku lain bicara soal teknis seperti cara bikin blog, cara membuat postingan, cara membuat adsense, dan sebagainya, maka buku karya Ollie ini diluar dari itu semua.
Buku ini lebih banyak menekankan pada tips-tips menulis di blog, seperti:
  • Mencari ide atau tema menulis
  • Mengupas elemen-elemen di blog
  • Bagaimana cara menyediakan waktu untuk ngeblog?
Itu semua dijabarkan ke dalam beberapa point dan dibahas lebih detail. Apa yang ditulis Ollie dalam buku tersebut merupakan pengalamannya selama menjadi blogger dan juga apa yang telah didapatkannya selama itu, seperti ketika ia menuturkan bagaimana menyenangkannya menjadi seorang blogger, bisa keliling dunia gratis dan mencicipi gadget terbaru secara gratis pula. Semua pengalaman itu dituangkan Ollie secara terstruktur dan rapih. Tidak hanya itu, berbagai masalah dan kendala dalam blogging dituangkan sekaligus dengan solusi dan trik mengatasinya, menarik bukan?

Melihat fisiknya, buku ini terlihat imut tapi menggigit, desain covernya fancy dan cute. Dengan tebal 110 halaman dan ukuran 13 x 19 cm menjadikan buku ini enak untuk dibawa kemana-mana dan tidak bikin berat jika dimasukkan ke dalam tas.

Di luar keunggulan buku ini, saya tidak melihat kelemahan yang significant. Hanya saja lebih baik jika layout buku ini diberi gambar-gambar ilustrasi agar lebih menarik, seperti buku Ollie sebelumnya yang berjudul Eazy Bizz di mana setiap awal bab ada gambar ilustrasi yang lucu.

Ketika mencari buku ini di Gramedia, saya menemukannya pada kategori komputer / blog, karena buku ini memang bicara seputar blog. Namun menurut saya sebaiknya buku ini juga dimasukkan dalam kategori bahasa, karena membahas tentang teknik menulis namun medianya merupakan media elektronik yaitu internet, bukan buku atau media massa. Kurang lebih sejajar dengan buku-buku dengan tema seperti: cara menulis cerpen, cara menjadi penulis buku best seller, dan buku sejenis itu.

Overall, buku ini tetap menjadi referensi penting karena banyak sekali insight di dalamnya, terutama buat kamu yang rajin nge-blog atau yang mau terjun ke dunia blog. Apalagi harganya cukup terjangkau, pas untuk kantong mahasiswa, hanya Rp 24.000 saja kamu sudah mendapatkan banyak ilmu di dalamnya.

Sekilas tentang penulis buku:
Ollie merupakan enterpreneur dalam berbagai bisnis Online, antara lain toko buku online www.kutukutubuku.com, online sel-publishing www.nulisbuku.com, eCommerce consultant www.tukusolution.com, game studio www.tempalabs.com hingga Muslimah fashion line-nya sendiri www.salsabeelashoop.com.

Ollie telah menghasilkan lebih dari 20 buku fiksi dan how-to seputar pembuatan website/blog.
Kesuksesannya dalam bisnis startup membawanya menjadi model dalam TVC Indosat Im3 bersama beberapa pengusaha sukses lainnya. Saya sendiri pertama kali mengenal Ollie secara tidak langsung melalui bukunya tentang Joomla! Jangan lupa follow akun twitternya @salsabeela dan liat blognya di www.salsabeela.com, dan sekalian follow saya juga @greatdaru hehehe...

Mengemas CD secara praktis dengan kertas A4

Biasanya kita membeli CD atau DVD dalam jumlah banyak untuk stok, namun seringkali kita tidak membeli CD case-nya, sehingga ketika selesai nge-burn dan ingin menyerahkan ke pihak lain (ke percetakan misalnya) kita tidak tahu harus menggunakan apa sebagai cover atau pelindungnya.

Namun ada cara mudah untuk mengemas CD secara praktis namun tetap terlihat rapih. Hanya dengan menggunakan kertas A4, dan melipatnya beberapa kali, tanpa perlu menggunting maupun lem. Berikut ini langkahnya.

1. Siapkan kertas A4, letakkan CD di tengah kertas




2. Lipat kedua sisi kertas ke dalam




3. Geser CD ke atas, kurang lebih 2 cm dari sisi paling atas



3. Lipat kertas ke atas pada bagian bawah CD, sehingga lipatan tersebut menutup CD


 


4. Lipat ke bawah bagian atas kertas yang tersisa, sehingga tampak seperti menutup amplop.




5. Lipatan tersebut kemudian disisipkan ke dalam kertas, masukkan diantara lipatan dua sisi samping.


6. Hasilnya akan tampak seperti gambar.



7. Kamu juga bisa menambahnya dengan tulisan atau gambar, baik dengan cara manual maupun dengan komputer :)

Hobi vs Rutinitas Kerja


Rutinitas dalam pekerjaan merupakan tali kekang bagi seorang karyawan yang memiliki banyak minat dan ketertarikan terhadap banyak hal seperti saya.  Sembilan jam sehari, lima hari seminggu - belum termasuk lembur dan macet di jalan - sudah sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi jika pekerjaan tersebut bukan termasuk passion kita, maka semakin terasalah beban tersebut.  

Passion yang kita miliki ternyata hanya sebatas hobi yang harus bersaing dengan realitas didepan mata, yaitu pekerjaan sehari-hari yang membosankan.  Pelampiasan terhadap hobi menjadi sesuatu yang mahal, namun bagaimanapun caranya tetap harus dilampiaskan, karena saya toh manusia bukan mesin pabrik.
Begitu banyaknya minat dan hobi, saya pun harus lebih cerdas dalam mengatur waktu untuk bisa mengeksekusi semua itu. Berikut saya jelaskan beberapa contoh solusi yang sudah saya kerjakan.

Blogging
Jika dulu kegiatan menulis hanya dapat dilakukan diatas kertas, maka berungtunglah saya saat ini dapat menulis di perangkat elektronik seperti  smartphone yang dapat dibawa kemanapun. Itu sekaligus menjadi solusi utuk mengatasi keterbatasan waktu, dengan perangkat tersebut saya dapat langsung menulis beberapa bagian atau paling tidak menulis point-point utama,  untuk kemudian tulisan tersebut disempurnakan lagi di laptop dan kemudian dipublish ke blog. 
Membaca
Hal yang  satu ini sudah hobi saya sejak kecil, kegemaran membaca mengantarkan saya menyukai dunia tulis-menulis.  Jika dulu saya dapat membaca buku dan koran setelah pulang sekolah, beda dengan kondisi sekarang dimana saya sudah bekerja. Saya membaca di dalam bus transjakarta dalam perjalanan pulang atau pergi bekerja. Di sela-sela waktu bekerja pun saya sempatkan untuk membaca blog dan berita di berbaga situs seperti yahoo news atau detik.com, itu cukup membantu untuk update informasi.  Meskipun membaca blog dapat dilakukan dengan smartphone di jalan, tapi rasanya kurang puas dengan layar yang tanggung.
Menggambar
Hobi  inipun juga sudah saya jalani sejak kecil. Jika dulu saya hanya menggambar diatas kertas, saat ini saya bisa menggambar dengan wacom yang lebih praktis dan paperless sehingga menghemat penggunaan kertas. Tapi saya menggambar hanya disaat mood tertentu, jadi tidak dipaksakan seperti hobi lainnya.
Film
Menonton film mungkin hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam saja, namun jika nontonnya di bioskop dan bareng teman atau gebetan tentunya tidak cukup cuma nonton, tapi juga disertai jalan-jalan di mall, makan, dan ngobrol sehingga ini menghabiskan banyak waktu, anggap saja kurang-lebih 4-5 jam, tentu waktu seperti ini hanya bisa dilakukan tiap akhir pekan. Namun jika nonton melalui DVD tentunya lebih praktis karena bisa dilakukan di rumah setiap hari sepulang kerja.
Musik
Hobi musik saya hanyalah sebatas mendengar musik dan nonton konser, bukan bermain musik atau nge-band. Ini bisa saya lakukan pada akhir pekan, sekaligus menalankan hobi fotografi konser. Itupun tidak tentu waktunya, tergantung dengan event yang sedang berlangsung apakah menarik untuk saya atau tidak.
Fotografi
Ketertarikan saya terhadap fotografi -  terutama yang berkaitan dengan musik - karena melihat foto-foto di cover CD dan foto-foto konser musik, berangkat dari situ saya mulai rajin datang ke berbagai konser untuk mengasah skill fotografi saya. Karena konser musik  biasanya diadakan pada akhir pekan, jadi saat itulah saya akan menyediakan waktu untuk datang ke konser.
Fitness
Inilah hobi yang paling berat, keras, dan menguras tenaga. saya menjalaninya setiap pulang kantor, 2- 5 kali, itupun sudah agak malam dan mendekati saat-saat gym dan mall-nya tutup, sekitar jam 8.30. Tapi mau bagaimana lagi, waktu saya tidak banyak, jadi memang harus dipaksakan datang ke gym yang kebetulan ada di dalam mall.
Menghabiskan sisa tenaga setelah seharian kerja dan macet2an di jalan. Konsekuensinya saya sering bangun kesiangan dan telah ngantor haha... but it's oke karena fitness itu menyegarkan dan menyenangkan.

Dari semua itu intinya adalah manajemen waktu, terutama bagi yang masih jadi karyawan seperti saya, jam kerja 9 to 6 tidak dapat ditawar, jadi harus lihai mengatur waktu.
  • Gunakan  waktu se-efisien mungkin. Menyelesaikan semua pekerjaan di kantor secepat mungkin agar saya dapat menulis untuk blog atau sekedar membaca berita dan blog lain.
  • Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Adakalanya saya dapat waktu luang yang cukup nyaman, seperti di dalam busway dan kebetulan dapat tempat duduk, maka saya manfaatkan untuk membaca buku saya bawa.
  • Pilih waktu dengan bijak sesuai dengan prioritas. Ketika ada tayangan menarik di televisi dan ada kesempatan untuk menulis, pilih mana? menulis atau nonton tv? Tentu saya pilih sesuai kebutuhan saat itu, jika memang ada yang ingin ditulis tentu saya akan menulis, namun jika saya sudah lelah dan jenuh, maka saya lebih baik nonton tv saja untuk sekedar refresing, toh menonton tv tidak menggunakan otak dan tidak perlu mikir, cuma tinggal liat aja...
Jika cara diatas masih belum sesuai, berikut ini ada solusi lain yang agak extreme:
Carilah pekerjaan yang sesuai dengan gaya hidup kamu, bukan gaya hidup kamu yang mengikuti pekerjaan kamu. Menjadi pengusaha dengan anak buah adalah pilhan paling enak, sebagai pengusaha tentu kamu bisa menjalani  hobi kamu kapan saja selama urusan bisnis sudah dipegang anak buah kepercayaan.

Perihal Blog yang Sempat Terbengkalai

Ketika melihat blog archive, saya baru sadar, ternyata selama 2010 saya sama sekali tidak membuat postingan apapun di blog! Gila.. Kemana aja selama itu?! Entah sibuk sama kerjaan atau sama gebetan, padahal di jurnal yang saya simpan di hard drive laptop saya, ada beberapa tulisan yang saya buat pada 2010. tapi entah kenapa tidak saya posting di blog, tulisan tersebut memang masih mentah, hanya tinggal diedit dan dipoles sedikit seharusnya sudah bisa di publish, tapi yang saya lakukan tidak seperti itu, malah saya acuhkan begitu saja.

Terlalu banyaknya pertimbangan sepertinya menjadi penyebab utama, kebiasaan saya adalah tidak akan mempublikasikan karya yang belum jadi. termasuk tulisan untuk blog, bahwa tulisan tersebut harus diedit dan dikoreksi berkali-kali, perihal penggunaan bahasanya, alurnya, dan sebagainya. Jika saya masih belum sreg juga, maka saya tetap tidak akan mem-publishnya. dan akhirnya malah benar-benar tidak mem-publish apapun.

Padahal yang namanya kesempurnaan adalah masalah proses, semua yang sudah pernah saya kerjakan akan terlihat kemajuannya, tingkat kematangannya. Seperti dalam galeri online saya di situs Deviantart, disana terlihat karya saya ketika masih baru belajar ilustrasi vector hingga sudah lumayan mahir, terlihat progress yang significant.

Seperti itulah yang harusnya saya lakukan juga terhadap karya tulis saya di blog ini. Mau bagus atau jelek, mau dibaca orang atau tidak, mau dikasih komen orang atau tidak, saya harus tetap aktif menulis dan menulis.

Sunday, 29 April 2012

Sekilas Tentang CD Packaging

CD Packaging atau kemasan CD merupakan pelindung utama yang akan mengurangi resiko kerusakan, seperti tergores, patah, jamur, dan sebagainya. CD case yang tersedia di toko-toko ada banyak jenisnya, kamu bisa memilih sesuai dengan kebutuhan CD, apakah itu untuk promo album musik, company profile, portfolio atau sekedar untuk disimpan secara pribadi.

Beberapa jenis tipe CD case tersebut yaitu:

Jewel Cases
Merupakan kemasan CD yang paling umum digunakan, berbahan plastik dan terdapat 3 lapisan. Lapisan depan yang dapat disisipi cover atau booklet, lapisan tengah untuk meletakkan cakram CD yang terdapat gerigi ditengahnya yang dapat menahan posisi CD agar tidak mudah bergeser, lapisan ketiga - yang juga merekat dengan lapisan kedua - sebagai penutup yang dapat disisipi cover belakang dan biasanya menampilkan daftar isi CD.



Multi-disc Cases
Kemasan CD yang dapat memuat 2 hingga 6 CD, bentuknya tidak jauh berbeda dengan single Case, hanya saja di dalamnya terdapat beberapa layer sehingga dapat menyimpan bebererapa CD.





Clam shell cases
Ini jenis kemasan CD yang paling simpel dan lebih aman dibanding jenis lainnya. Bentuknya biasanya bulat dan nge-pres ketika ditutup, sehingga meminimalisir CD bergeser / berputar yang bisa menyebabkan CD tergores. Namun jenis ini tidak dapat disisipi cover kecuali berupa stiker yang memungkinkan ditempel dibagian luarnya.




Paper Sleeve
Kemasan CD ini terbuat dari kertas karton, bentuknya seperti amplop atau kantong namun dengan ukuran yang sesuai dengan diameter CD. Jenis kemasan ini lebih ekonomis dan praktis, sehingga sangat tepat menggunakan jenis ini jika ingin menyertakan CD sebagai bonus majalah, demo CD, company profile, dan bentuk promo lainnya.


Tuesday, 24 April 2012

Inspiring Designer - P.R Brown

Salah satu desain cover album yang membuat saya terkagum-kagum ketika SMA adalah cover Marilyn Manson, album Holy Wood (In the Shadow of the Valley of Death) yang dirilis tahun 2000, album ini saya pinjam dari teman.. :p






Dari segi artistik, cover tersebut merupakan cover terbaik bagi saya saat itu, visualisasinya sangat berbeda dengan cover album band lain yang musiknya sedang nge-trend. Nuansa suram sangat dominan, penuh simbol-simbol yang diinspirasi dari tarot dan ilmu alchemy, dimana setiap member band menggambarkan karakter tertentu yang biasa terdapat dalam kartu tarot dan merefleksikan suatu makna.

Setelah beberapa saat terkagum-kagum, mata saya langsung mencari-cari bagian credit title, karena disitulah biasanya tertera nama-nama yang terlibat dalam pembuatan album termasuk art cover. Lalu saya menemukan sebuah nama, P.R Brown, inilah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kegilaan desain cover tersebut. Nama ini kemudian menjadi familiar dalam benak saya untuk art cover bagi scene modern rock dan metal, karena dari sekian banyak album yang saya koleksi, ternyata diantaranya dikerjakan oleh Brown untuk art covernya.

P.R Brown bersama agency desain miliknya, Bauda Design Lab, banyak mengerjakan proyek dalam industri musik, seperti desain cover album, video klip, hingga fotografi. Di awal karirnya, Brown kerap bekerjasama dengan Marilyn Manson untuk berbagai material visualnya. Hingga saat ini, band dan artis yang menjadi kliennya antara lain Papa Roach, Disturbed, Motley Crue, Slipknot, Korn, The Used, Sevendust, dan banyak lagi.

Untuk video klip, Brown menjadi sutradara dengan mengerjakan video untuk Billy Corgan, Evanescence, Seal, Audioslave, Prince, Jack White & Alicia Keys, Slipknot, Sevendust, Matisyahu, Mötley Crüe, Goo Goo Dolls, Static-X. Fotografi yang dikerjakan Brown juga digunakan dalam cover album, seperti album Billy Corgan, Godsmack, dan Marion Raven.


Sedangkan diluar industri musik, Brown mengerjakan iklan TV commercial (TVC) untuk berbagai produk.

Karya-karya Brown memiliki karakteristik dan konsep visual yang kuat. Hampir semua karyanya - khususnya untuk cover album - memiliki sentuhan Grunge Style, dengan kesan dirty look, kasar, penggunaan tekstur, warna minimalis dan suram, namun hasil akhirnya begitu artistik. Ditambah lagi dengan teknik fotografi yang disempurnakan dengan permainan digital imaging yang sangat dominan dalam karyanya. Tentunya desain cover yang dibuat tidak lepas dari pengaruh musik yang ada dalam album itu sendiri.

Dari sekian banyak karya yang telah dihasilkan, beberapa diantaranya merupakan favorit saya, yaitu video klip Sixx A.M berjudul Lies of the beautiful People. Video tersebut menggabungkan slide-slide Photography dan video yang diolah sedemikian rupa sesuai lirik dan musiknya. Video ini seolah ingin  merubah persepsi tentang keindahan itu sendiri menjadi sesuatu yang lain, dengan menampilkan foto-foto berbagai sosok dengan tubuh yang “kurang sempurna” yang dimake-up dan mengenakan kostum aneh, dan dibuat slideshow dan efek noise. Konsep tersebut sepertinya tak lepas dari Nikki Sixx (pentolan & bassist Sixx A.M yang juga bassist Motley Crue) yang juga mendalami dalam fotografi.

Berikut video klipnya:




Sementara untuk desain cover favorit saya dari P.R Brown tentu saja album Marilyn Manson yang saya sebutkan di awal tulisan ini, selain itu album Mechanical Animal dari Marilyn Manson juga menarik, album ini sangat berbeda, desainnya lebih clean dan minimalis dengan latar belakang putih, namun di dalam kenyamanan dan teraturan visual tersebut, tetap saja ada elemen visual yang “menghantam mata”, yaitu foto Manson yang berpenampilan seperti androginy dan sedikit vulgar, dan harus disensor untuk dapat beredar di pasar musik Indonesia.



Sebenarnya saya ingin sekali melakukukan interview secara online dengan Brown agar blog saya lebih eksklusif hehe, namun berhubung keterbatasan waktu maka hanya informasi tersebut yang dapat saya share, mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi desainer lainnya, terutama yang berkutat dengan industri musik. Untuk melihat karya-karya Brown lebih lengkap dapat mengunjungi di websitenya


Saturday, 21 April 2012

My interest in album cover design

Ketika di bangku sekolah dulu, saya belum menyadari benar bahwa beberapa hal yang menjadi passion saya ternyata dapat saling berhubungan satu sama lain. Bahkan setiap kali saya mendengarkan lagu-lagu dari koleksi kaset sambil memandangi cover albumnya, bukan sedang menghafal liriknya, melainkan mengagumi  desain cover album tersebut.

Yap, ini tentang saya, dan ketertarikan saya terhadap desain cover album.

Sejak SMP memang saya sudah mengoleksi kaset-kaset rock, baik band luar maupun lokal. Kaset sebagai benda koleksi tentunya membuat saya menaruh apresiasi yang besar terhadap desain covernya. Cover menjadi  karya seni yang tidak dapat dilepaskan dari musik dalam album tersebut.
Pada usia yang mulai menginjak abg itu, musik merupakan hal baru bagi bagi saya, sedangkan dunia menggambar sudah akrab dengan saya sejak balita, sehingga cover album sering kali menjadi pertimbangan  utama dalam membeli kaset.

Selera saya akan desain juga masih terbilang norak, lebih menyukai cover album penuh warna dengan gambar-gambar ilustrasi yang dominan, permainan teks yang overlap dan terkesan acak, pokoknya.. shocking  visual yang memanjakan mata adalah bentuk visualisasi yang menarik. Maklum, mungkin pengaruh usia yang  belia :p

Beberapa cover album favorit saya ketika SMP diantaranya adalah:
  • Dewa19 album Terbaik-terbaik (1994)




  • Flowers - 17+ (1997)

  • Edane album Borneo (1997)

  • Slank (beberapa album)



Sedangkan untuk album luar, lebih banyak lagi yang menjadi favorit. Diantaranya adalah:

•    Motley Crue album greatest hits, dengan gambar ilustrasi yang sangat menarik untuk saya.





•    Cover album Steve Vai – album Passion and Warfare dan album Fire Garden, dua album tersebut dipenuhi ilustrasi surealis, penuh simbol-simbol aneh - yang belakangan ini baru mengerti ternyata simbol tersebut merupakan simbol illuminati.






•    Rolling Stone album Bridges to Babylone karya Stevan Sagmeister,



•    Prodigy album Fat of The Lamb, dan  banyak lagi.



Art Cover with my style
Ternyata apresiasi saya tidak cukup dengan mengoleksi, bahkan saya membuat cover kaset sendiri. Saat itu memang saya sering membuat rekaman lagu dari kaset lain maupun dari radio. Dengan kaset kosong C-60 atau C-90, saya merekam kompilasi lagu-lagu yang saya suka dari kaset lain yang saya pinjam dari teman atau dari radio, saya merekamnya dengan tape milik ayah yang memiliki 2 deck untuk kaset. Maka jadilah sebuah kaset kompilasi ala Daru haha... Kompilasi tersebut saya buat covernya supaya lebih keren.

Untuk pengerjaannya, karena belum mengenal komputer apalagi Photoshop, maka album kompilasi suka-suka tersebut saya buat secara manual, bahan kertasnya adalah art karton yang saya ambil dari kalender bekas.. haha, gambar dan grafisnya saya buat dengan spidol berbagai warna, termasuk judul-judul lagunya.

Barulah ketika SMA saya mulai sedikit mengenal komputer, maka hobi membuat cover saya buat di komputer. Spek saat itu adalah prosesor Pentium 100Mhz, RAM 164, dan Windows 95.. haha jadul banget gak sih... dan di kompie tersebut memang sudah ada Photoshop versi 5.0, tapi saya belum mengerti cara menggunakannya, tools-nya juga terlalu banyak, entah itu untuk apa saja, sehingga rasanya lebih mudah mendesain dengan Ms.Paint bawaan windows. Dengan tampilan interface yang lebih simpel saya merasa nyaman, karena cuma ada tool Brush, pencil, eraser, select tool, dan type tool. Maka dengan segala kemampuan dan upaya, saya mendesain cover dengan tools yang terbatas tersebut. Hasilnya? untuk sementara cukup lumayan...

Mendesain cover album ternyata menjadi experience yang menyenangkan, saat itulah cita-cita saya ingin  menjadi desainer cover album dan berkecimpung dalam dunia musik seperti Dik Doang dan Dimas Djay. Saya  melihat Dik Doang di TV, selain sebagai penyanyi yang baru mengeluarkan album, dia juga bercerita tentang  pekerjaannya sebagai desainer cover album.

Sedangkan untuk Dimas Djay, memang lebih familiar dikenal sebagai sutradara video klip, belakangan saya
tahu melalui kaset koleksi saya, ternyata Dimas juga mendesain cover album untuk beberapa band. Alasan cita-cita saya diperkuat dengan penampilan mereka yang cuek, bukan seperti pekerja kantoran yang  formal, Dimas yang identik dengan rambut gondrongnya dan t-shirt hitam, Dik Doang dengan gayanya yang  nyantai tapi fun, seolah mereka menikmati pekerjaan dan hdupnya.

Semakin lama, kedekatan emosional antara saya - desain dan musik semakin kuat, cita-cita tersebut terus berdenyut dalam kepala saya, seperti bom waktu yang terus berdetak dan menunggu untuk  meledak.
Bahkan ketika kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, seringkali saya membuat tugas kuliah yang masih berkaitan dengan musik. Pada Tugas Akhir saya membuat website untuk sebuah band metal Jakarta. Tugas skripsi saya membahas mengenai ilustrasi pada desain cover album.

Music Industry
Gayung bersambut seirama cita-cita saya. Selepas kuliah, saya bekerja di sebuah record label yang sedang berkembang di Jakarta. Tentu saja saya membuat desain cover album untuk berbagai grup musik dan penyanyi. Beberapa artis sudah tenar sebelum albumnya dirilis perusahaan tersebut. Namun sebagian besar adalah pendatang baru di industri musik. Sebagai band pendatang baru, mereka tentu membutuhkan brand dan image yang nantinya akan terus diingat publik, dan disitulah tantangan saya, memberikan brand dan image dalam cover album yang akan dirilis.

Selama di record label, telah belasan cover yang saya buat termasuk merchandise dan media promosi lainnya. Namun saat jurnal ini ditulis, saya telah lama meninggalkan perusahaan tersebut, dan tidak lagi membuat cover album. Namun ketertarikan saya terhadap art cover belum hilang, saya masih membeli CD dari band-band favorit, walaupun tidak semua covernya menarik.

Zaman telah berubah, digitalisasi seperti gelombang kapitalisme baru yang menjajah bentuk fisik yang konservatif.  Saat ini sebagian orang lebih memilih men-download lagu per-lagu ketimbang membeli CD atau kaset, hanya orang-orang tertentu yang memiliki apresiasi yang besar saja yang masih membeli CD. Lalu ketika permintaan karya rekaman fisik mengalami penurunan, bagaimana peran desainer cover album saat ini? Berhubung ini sudah masuk dalam ranah bisnis dan industri, maka saya akan membahasnya dalam postingan saya selanjutnya :D

Sunday, 31 July 2011

HARD-ROCKING JULY

Juli yang menyenangkan, satu bulan penuh dengan pertunjukkan musik berdistorsi keras, dari renyahnya Rock 'N Roll dan Blues hingga gemuruh agresifitas Death Metal yang kejam. Bahkan hingga sekarang saya masih ingat bagaimana rasanya sound yang menghantam telinga dan wajah bertubi-tubi tanpa ampun, teriakan histeria crowd, luapan ekspresi headbangers dengan energi yang meledak-ledak di mosh-pit area, ribuan kepalan tangan dan dua jari di udara seolah menantang langit, sorot efek cahaya dan smoke yang menambah suasana mencekam.. whuoow!!

Terhitung setiap akhir pekan di bulan Juli lalu, Jakarta dibakar dengan panasnya konser-konser besar, dari Jakarta Fair (yang bahkan sudah dimulai dari Juni), Launching album baru Burgerkill, konser PowerSlaves, Hoobastank, Java Rockin'Land, Rockvolution, Histeria Night dan Bekasi Death Fest. Empat Festival musik yg saya sebutkan terakhir bahkan digelar dengan jadwal yang sama! (tentu saja saya harus memilih salah satu, aarggh!) namun saya lebih prefer band bule untuk saya tonton, Helloween, Good Charlotte dan The Datsun adalah prioritas utama :D

Seumur hidup baru kali ini saya rutin setiap minggu berturut-turut (1-2 kali seminggu) selama sebulan menyaksikan konser. DSLR Canon sayalah yang membawa saya menuju arena hingar-bingar konseria. Membidik aksi para musisi yang memainkan instrumen dengan ekspresi liarnya, menangkap moment yang hanya terjadi se-per-sekian detik, membuat bukti nyata bagi eksisnya sebuah band. Maka, bulan juli lalu saya manfaatkan habis-habisan untuk mengejar portfolio fotografi saya, yang kebetulan saya memang interest dengan fotografi dengan tema musik. Beberapa diantara foto-foto tersebut saya publish di facebook. (sedang merencanakan membuat Blog berisi photofolio saya :p)

Saat tulisan ini ditulis, baru saja memasuki tanggal 1 Agustus, dan jika melihat koleksi foto-foto konser bulan lalu, rasanya tidak sabar ingin kembali ke arena konser. Mudah-mudahan event musik - khususnya Rock dan Metal - tetap ramai meski bulan ini merupakan bulan puasa.

Berikut ini adalah beberapa foto yang diambil dalam berbagai konser di bulan Juli. :)

Burgerkill



Eka Annash of THE BRNDLS




Helloween @Java Rockin'Land





Ovy /rif @Java Rockin'Land