Photobucket

Rock Photography

Helloween live at Java Rockin'land 2011

Photobucket

Rock Photography

The Brandals @Jakcloth 2012

Photobucket

Rock Photography

Koil at Kaskus Jelajah TKP

Photobucket

Rock Photography

Jono of Gugun Blues Shelter

Photobucket

Rock Photography

Koil at Kaskus Jelajah TKP

Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Wednesday, 13 November 2013

MENGENANG KASET

Tiap kali saya ngeliatin koleksi kaset... saya ingat bagaimana harus ngumpulin duit dulu untuk membelinya, karena hampir semua kaset saya beli ketika masih sekolah dan kuliah. Minimal sebulan sekali beli kaset, termasuk kaset second, sehingga bisa beli dengan harga lebih murah dan dapat lebih dari satu kaset hehehe.. :D

Tapi sekarang, dengan status sebagai karyawan yang tiap bulannya dapet gaji harusnya saya bisa koleksi kaset atau CD, bukan cuma satu tapi beberapa. Ironisnya malah jarang saya beli. Dari pertama kali kerja hingga sekarang bisa dihitung berapa kali saya beli CD.

Kemudian saya iseng corat coret bikin komik, gak penting juga juga sih yang beginian doang dibikin komik.. Tapi cuma sekedar mengenang bagaimana menyenangkannya ketika beli kaset dulu sepulang sekolah. Ini ceritanya saya pas jaman SMP beli kaset Steve Vai album Fire Garden, awalnya berasa aneh sama musiknya, tapi lama-lama malah suka dan diputar berulang-ulang.



Thursday, 3 October 2013

LAGU LAMA BERSEMI KEMBALI

Dari sekian banyak album yang saya koleksi, tentunya gak semua lagunya saya suka. Satu album mungkin yang enak cuma setengahnya, sisanya biasa-biasa aja.. ya gak sih? Jadi yang saya denger cuma yang saya anggap enak itu aja.

Tapi setelah sekian lama koleksi album tersebut numpuk, ketika didengar kembali rasanya jadi terdengar lain. Ternyata banyak lagu-lagu yang dulu saya gak suka sekarang malah suka bahkan didengar berulang-ulang. Seperti Seven Impossible Days dari Mr. Big, dulu di album The Best-nya itu saya cuma denger lagu-lagu yang kencengnya, saya males dengerin yang gak berdistorsi, apalagi akustikan hahaha..

Kemudian di album-album Slank, biasanya ada lagu blues seperti lagu Teng Teng Blues, nah jaman SMP dulu saya gak suka lagu lemes begitu, gak semangat. Baru setelah SMA saya ketagihan banget dengerin yang ngeblues - ngeblues gitu.

Lalu lagu-lagunya Radiohead, pop alternative british kayak gitu gak masuk di kuping saya ketika jaman sekolah dulu, tapi sekarang malah sering dengerin Karma Police dan Paranoid Android. Kemudian ada beberapa lagu lagi yang baru suka sekarang, dari jenis musik Jazz, Folk, hingga Death Metal.

Saya jadi mikir kenapa bisa begitu yah? Saya menyimpulkan ada dua kemungkinan.
  • Pertama, mood saya sedang pas ketika mendengar kembali lagu tersebut. 
  • Kedua, bisa jadi selera musik saya yang meningkat seiring usia yang bertambah, sehingga makin tua makin mudah menerima banyak jenis musik. Sepertinya ada benarnya juga, sebab secara psikologis *ciahhh.. ketika jaman sekolah dulu jiwa saya masih labil karena konon katanya masa-masa remaja adalah masa yang berat, itulah kenapa saya suka musik dengan distorsi kasar. Sedangkan sekarang kondisi kejiwaan saya mulai stabil (bukan berarti dulu gila - _-") sehingga saya lebih jernih dan lebih terbuka ketika mendengar setiap alunan berbagai jenis musik yang gak biasa.
Dua kemungkinan diatas sama-sama benar, masing-masing terjadi pada beberapa lagu yang saya dengar.

Kayaknya blog ini mulai gak jelas, isinya nanya sendiri, mikir sendiri, terus dijawab sendiri hehe.. Yahh namanya juga refleksi.
Mungkin kamu juga sering mengalami hal yang sama dengan saya? Udah lama tau lagu itu tapi baru sekarang suka lagu tersebut. Jangan ragu untuk share pengalaman kamu lewat komen dibawah ini ya :D

Sunday, 6 May 2012

Hobi vs Rutinitas Kerja


Rutinitas dalam pekerjaan merupakan tali kekang bagi seorang karyawan yang memiliki banyak minat dan ketertarikan terhadap banyak hal seperti saya.  Sembilan jam sehari, lima hari seminggu - belum termasuk lembur dan macet di jalan - sudah sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi jika pekerjaan tersebut bukan termasuk passion kita, maka semakin terasalah beban tersebut.  

Passion yang kita miliki ternyata hanya sebatas hobi yang harus bersaing dengan realitas didepan mata, yaitu pekerjaan sehari-hari yang membosankan.  Pelampiasan terhadap hobi menjadi sesuatu yang mahal, namun bagaimanapun caranya tetap harus dilampiaskan, karena saya toh manusia bukan mesin pabrik.
Begitu banyaknya minat dan hobi, saya pun harus lebih cerdas dalam mengatur waktu untuk bisa mengeksekusi semua itu. Berikut saya jelaskan beberapa contoh solusi yang sudah saya kerjakan.

Blogging
Jika dulu kegiatan menulis hanya dapat dilakukan diatas kertas, maka berungtunglah saya saat ini dapat menulis di perangkat elektronik seperti  smartphone yang dapat dibawa kemanapun. Itu sekaligus menjadi solusi utuk mengatasi keterbatasan waktu, dengan perangkat tersebut saya dapat langsung menulis beberapa bagian atau paling tidak menulis point-point utama,  untuk kemudian tulisan tersebut disempurnakan lagi di laptop dan kemudian dipublish ke blog. 
Membaca
Hal yang  satu ini sudah hobi saya sejak kecil, kegemaran membaca mengantarkan saya menyukai dunia tulis-menulis.  Jika dulu saya dapat membaca buku dan koran setelah pulang sekolah, beda dengan kondisi sekarang dimana saya sudah bekerja. Saya membaca di dalam bus transjakarta dalam perjalanan pulang atau pergi bekerja. Di sela-sela waktu bekerja pun saya sempatkan untuk membaca blog dan berita di berbaga situs seperti yahoo news atau detik.com, itu cukup membantu untuk update informasi.  Meskipun membaca blog dapat dilakukan dengan smartphone di jalan, tapi rasanya kurang puas dengan layar yang tanggung.
Menggambar
Hobi  inipun juga sudah saya jalani sejak kecil. Jika dulu saya hanya menggambar diatas kertas, saat ini saya bisa menggambar dengan wacom yang lebih praktis dan paperless sehingga menghemat penggunaan kertas. Tapi saya menggambar hanya disaat mood tertentu, jadi tidak dipaksakan seperti hobi lainnya.
Film
Menonton film mungkin hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam saja, namun jika nontonnya di bioskop dan bareng teman atau gebetan tentunya tidak cukup cuma nonton, tapi juga disertai jalan-jalan di mall, makan, dan ngobrol sehingga ini menghabiskan banyak waktu, anggap saja kurang-lebih 4-5 jam, tentu waktu seperti ini hanya bisa dilakukan tiap akhir pekan. Namun jika nonton melalui DVD tentunya lebih praktis karena bisa dilakukan di rumah setiap hari sepulang kerja.
Musik
Hobi musik saya hanyalah sebatas mendengar musik dan nonton konser, bukan bermain musik atau nge-band. Ini bisa saya lakukan pada akhir pekan, sekaligus menalankan hobi fotografi konser. Itupun tidak tentu waktunya, tergantung dengan event yang sedang berlangsung apakah menarik untuk saya atau tidak.
Fotografi
Ketertarikan saya terhadap fotografi -  terutama yang berkaitan dengan musik - karena melihat foto-foto di cover CD dan foto-foto konser musik, berangkat dari situ saya mulai rajin datang ke berbagai konser untuk mengasah skill fotografi saya. Karena konser musik  biasanya diadakan pada akhir pekan, jadi saat itulah saya akan menyediakan waktu untuk datang ke konser.
Fitness
Inilah hobi yang paling berat, keras, dan menguras tenaga. saya menjalaninya setiap pulang kantor, 2- 5 kali, itupun sudah agak malam dan mendekati saat-saat gym dan mall-nya tutup, sekitar jam 8.30. Tapi mau bagaimana lagi, waktu saya tidak banyak, jadi memang harus dipaksakan datang ke gym yang kebetulan ada di dalam mall.
Menghabiskan sisa tenaga setelah seharian kerja dan macet2an di jalan. Konsekuensinya saya sering bangun kesiangan dan telah ngantor haha... but it's oke karena fitness itu menyegarkan dan menyenangkan.

Dari semua itu intinya adalah manajemen waktu, terutama bagi yang masih jadi karyawan seperti saya, jam kerja 9 to 6 tidak dapat ditawar, jadi harus lihai mengatur waktu.
  • Gunakan  waktu se-efisien mungkin. Menyelesaikan semua pekerjaan di kantor secepat mungkin agar saya dapat menulis untuk blog atau sekedar membaca berita dan blog lain.
  • Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Adakalanya saya dapat waktu luang yang cukup nyaman, seperti di dalam busway dan kebetulan dapat tempat duduk, maka saya manfaatkan untuk membaca buku saya bawa.
  • Pilih waktu dengan bijak sesuai dengan prioritas. Ketika ada tayangan menarik di televisi dan ada kesempatan untuk menulis, pilih mana? menulis atau nonton tv? Tentu saya pilih sesuai kebutuhan saat itu, jika memang ada yang ingin ditulis tentu saya akan menulis, namun jika saya sudah lelah dan jenuh, maka saya lebih baik nonton tv saja untuk sekedar refresing, toh menonton tv tidak menggunakan otak dan tidak perlu mikir, cuma tinggal liat aja...
Jika cara diatas masih belum sesuai, berikut ini ada solusi lain yang agak extreme:
Carilah pekerjaan yang sesuai dengan gaya hidup kamu, bukan gaya hidup kamu yang mengikuti pekerjaan kamu. Menjadi pengusaha dengan anak buah adalah pilhan paling enak, sebagai pengusaha tentu kamu bisa menjalani  hobi kamu kapan saja selama urusan bisnis sudah dipegang anak buah kepercayaan.

Perihal Blog yang Sempat Terbengkalai

Ketika melihat blog archive, saya baru sadar, ternyata selama 2010 saya sama sekali tidak membuat postingan apapun di blog! Gila.. Kemana aja selama itu?! Entah sibuk sama kerjaan atau sama gebetan, padahal di jurnal yang saya simpan di hard drive laptop saya, ada beberapa tulisan yang saya buat pada 2010. tapi entah kenapa tidak saya posting di blog, tulisan tersebut memang masih mentah, hanya tinggal diedit dan dipoles sedikit seharusnya sudah bisa di publish, tapi yang saya lakukan tidak seperti itu, malah saya acuhkan begitu saja.

Terlalu banyaknya pertimbangan sepertinya menjadi penyebab utama, kebiasaan saya adalah tidak akan mempublikasikan karya yang belum jadi. termasuk tulisan untuk blog, bahwa tulisan tersebut harus diedit dan dikoreksi berkali-kali, perihal penggunaan bahasanya, alurnya, dan sebagainya. Jika saya masih belum sreg juga, maka saya tetap tidak akan mem-publishnya. dan akhirnya malah benar-benar tidak mem-publish apapun.

Padahal yang namanya kesempurnaan adalah masalah proses, semua yang sudah pernah saya kerjakan akan terlihat kemajuannya, tingkat kematangannya. Seperti dalam galeri online saya di situs Deviantart, disana terlihat karya saya ketika masih baru belajar ilustrasi vector hingga sudah lumayan mahir, terlihat progress yang significant.

Seperti itulah yang harusnya saya lakukan juga terhadap karya tulis saya di blog ini. Mau bagus atau jelek, mau dibaca orang atau tidak, mau dikasih komen orang atau tidak, saya harus tetap aktif menulis dan menulis.